SUARAAGRARIA.com, Jakarta:Waktu pengurusan sertipikat tanah yang beragam di setiap Kantah (Kantor Pertanahan) merupakan salah satu contoh hasil rantai birokrasi Badan Pertanahan Nasional (BPN RI) yang panjang. Harus diubah, karena bisa menyuburkan praktik percaloan dan mafia tanah.
"Paradigma birokrat (BPN, red) harus dirubah. Ini harus dilakukan karena tuntutan zaman," tegas Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) di Jakarta (12/5).
Menurut Iwan, lambannya penanganan perkara pertanahan di BPN RI merupakan akibat dimana mayoritas birokrat masih memiliki cara pandang usang dalam menyelesaikan sebuah masalah.
"Rantai birokrasi panjang dan njelimet makin memerparah keadaan. Kondisi ini menumbuhkembangkan calo dan mafia tanah. Akselarasi BPN dalam melaksanakan Reformasi Birokrasi harus lebih kencang lagi," tutur Iwan.
Kepemimpinan Hendarman Supandji, lanjut Iwan, sedang mendapatkan ujian berat. Apalagi ia sudah menggulirkan tujuh tertib yang dicanangkan untuk membenahi BPN. Salah satunya adalah tertib moral dengan dibuatnya sebuah reward and punishment bagi pegawai BPN. Salah satu tolak ukur pemberian reward and punishment adanya kepuasan masyarakat dalam pelayanan BPN.
"Di sini dia (Hendarman, red) diuji. Apakah berhasil atau tidak," ujarnya. Secara terang-terangan Iwan bahkan menilai kinerja BPN RI seperti mobil mogok saja.
Upaya BPN dalam meningkatkan kinerja tidak berjalan lurus dengan program yang ada, semisal program jemput bola mobil Larasita, yang tujuannya memberikan pelayanan pembuatan sertipikat tanah hingga ke pelosok desa.
Lanjut Iwan, tidak hanya masalah waktu pengurusan saja, upaya percepatan pengukuran tanah di setiap sangat kantor BPN ternyata juga berbeda-beda.
Hal ini disebabkan tidak semua kantor BPN dilengkapi Cors, sebuah alat pengukuran tanah yang menggunakan metode pengukuran digital.
"Padahal, BPN berulangkali berjanji fokus dalam merealisasikan percepatan pelayanan administrasi pertanahan bagi masyarakat," tutur Iwan lagi.
Banyak masyarakat jadinya belum secara langsung datang ke kantor BPN. Mereka pun lebih memilih mempercayakan penyelesaiannya urusan tanahnya kepada orang lain. "Dikhawatirkan akan dimanfaatkan calo dan mafia tanah," terangnya.
"Hal ini juga menunjukkan kalau program Larasita juga belum bekerja maksimal," kata Iwan.
Kamis, 11 Juli 2013
KPA: Rantai Birokrasi BPN yang Panjang Perlu Segera Diubah, Karena Bisa Suburkan Mafia Tanah
Dewan Pakar KPA: Sertipikasi & Bagi-bagi Tanah Adalah Reforma Agraria, Salah Kaprah!!
SUARAAGRARIA.com, Jakarta: Selama ini publik menyangka sertipikasi tanah itu adalah reforma agraria. Pemahaman seperti itu adalah awam, dangkal dan salah kaprah!
Demikian ditegaskan "sesepuh agraria" yang juga Dewan Pakar Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Gunawan Wiradi di hadapan anggota dewan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait RUU Pertanahan di Gedung DPR RI Jakarta (27/6).
"Ini salah kaprah, banyak yang menganggap Reforma Agraria adalah sertifikasi dan bagi-bagi tanah, padahal bukan begitu," tegas pria berusia 81 tahun itu (Sindir ini? Baca: Dengan Larasita, BPN Targetkan Sekitar 2 Juta Lahan Bersertifikat).
Menurutnya, reforma agraria sejati itu bertujuan untuk merombak struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pengelolaan sumber-sumber agraria (salah satunya tanah) (Dewi Kartika: RUU Pertanahan Belum Cerminkan Reforma Agraria Sejati).
Jadi proses sertipikasi tanah merupakan bagian akhir dari reforma agraria. "Bukan di awal reforma agraria," sindirnya.
Maka berdasarkan kesimpulannya RUU Pertanahan saat ini belum mampu menterjemahkan prinsip-prinsip dan semangat Reforma Agraria yang sejati.
Baca Berita Terkait:
KPA Ingatkan DPR Agar Pembahasan RUU Pertanahan Hindari Semangat Liberalisasi Pertanahan
Mengawal RUU Pertanahan agar di Jalur Pembaruan Agraria Sejati
Lha?? Tolak Pertambangan Karena Timbulkan Abrasi Malah Ditembak? - Satu Petani Kritis
Konsorsium Pembaruan Agraria: Stop Kriminalisasi Petani & Jalankan Reforma Agraria Sejati
SUARAAGRARIA.com, SIARAN PERS KONSORSIUM PEMBARUAN AGRARIA (KPA) Jakarta:Hari Senin 21 Januari 2013, rombongan petani Jambi yang long march dari Jambi ke Jakarta akan menyampaikan aspirasinya. Mereka akan menuju ke Gedung DPR RI. Sebagai bentuk solidaritas, ribuan petani dari berbagai daerah akan berbondong-bondong masuk Jakarta.
Selama di Jakarta, Petani akan Berkemah di Kantor-kantor Pemerintah untuk melakukan aksi serempak menyerukan Penghentian Kekerasan terhadap Petani, Pengusiran petani dari lahan dan pencaplokan tanah atas nama investasi. Petani akan berada di Jakarta dan terus melakukan protes sampai tujuan utama yaitu pelaksanaan reforma agraria akan dijalankan oleh pemerintah.
Kasus Senyerang Jambi, Mesuji Lampung, Takalar Sulawesi, Tasik Jawa Barat, dan daerah lainnya semakin meningkat ke arah konflik sosial yang lebih luas. Hal ini terjadi karena tidak ada sama sekali tindakan kongkrit dari Pemerintah untuk menyelesaikan kasus yang ada. Selama kepemimpinan SBY, kasus tanah justru semakin meningkat dan menambah catatan buruk kepemimpinan SBY. Kebijakan SBY lebih mementingkan investasi modal besar, padahal dengan 230 juta penduduk dan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia seharusnya menjadi negara maju dengan tingkat kesejahteraan penduduk yang tinggi. Tetapi yang terjadi saat ini Indonesia menjadi negara yang memiliki 1600 trilyun utang Luar Negeri dan 40% penduduknya masih berada di garis kemiskinan.
Kecenderungannya, penduduk miskin terus bertambah. Dari data BPS per maret 2010, Penduduk miskin di Jawa dan Bali mencapai 20,19 juta jiwa. Di Sumatera mencapai 14,4 juta jiwa. Di Sulawesi mencapai 2,61 juta jiwa dan Nusa Tenggara sebesar 2,17 juta jiwa. Sementara di Kalimantan sekitar 1,21 juta jiwa, di Papua sekitar 0,98 juta, dan di Maluku 0,49 juta jiwa. Di Papua, perbandingan jumlah penduduk miskin mencapai 36,1 persen, sedangkan di Nusa Tenggara sekitar 24,8 persen. Di Maluku, perbandingan jumlah penduduk miskin mencapai 20,5 persen, sedangkan di Sulawesi sekitar 17,6 persen. Di Sumatera angka itu mencapai 14,4 persen dan di Jawa-Bali mencapai 12,5 persen. ( BPS, dan berbagai Sumber)
Dalam 8 (delapan) tahun terakhir, sejak 2004 hingga 2012, Konsorsium Pembaruan Agraria mencatat setidaknya telah terjadi 618 konflik agraria di seluruh wilayah Republik Indonesia, dengan areal konflik seluas 2.399.314,49 hektar, dimana ada lebih dari 731.342 kepala keluarga menghadapi ketidakadilan agraria dan konflik berkepanjangan.Pemilihan cara-cara represif oleh aparat kepolisian/militer dalam penanganan konflik agrariayang melibatkan kelompok masyarakat petani dan komunitas adat telah mengakibatkan 941 orang ditahan, 396 mengalami luka-luka, 63 orang diantaranya mengalami luka serius akibat peluru aparat, serta meninggalnya 44 orang di wilayah-wilayah konflik tersebut dalam kurun waktu delapan tahun (Laporan Akhir Tahun 2012, KPA).
Konflik agraria yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia yang terakumulasi sejak lama, pecahnya konflik-konflik baru, jatuhnya korban nyawa petani, penangkapan dan kekerasan terhadap petani, serta maraknya keterlibatan militer dan kepolisian di lapangan konflik agraria menunjukkan bahwa tekanan dan perluasan kapitalisme terhadap penguasaan, pemilikan dan pengelolaan sumber-sumber agraria Indonesia semakin dilanggengkan oleh penguasa di negeri ini.
Pemerintah Indonesia dan DPR RI seolah tidak mengambil pelajaran dari berbagai konflik yang terjadi; seperti Kasus Mesuji-Lampung dan Sumatera Selatan, Kasus Senyerang-Jambi, Kasus Pulau Padang-Riau atau pun Kasus Bima, dan kasus-kasus lainnya yang menimbulkan banyak korban.
Melalui Siaran Pers ini, kami menyatakan sikap sebagai berikut :
1. Hentikan Kriminalisasi Petani yang tengah melakukan perjuangan menuntut haknya
2. Jalankan reforma agraria sejati
3. Mendukung sepenuhnya atas aksi long march petani Jambi dan Blitar ke Jakarta, dan menyerukan kepada seluruh kaum tani di Indonesia untuk melakuka aksi serupa menuntut hentikan kriminalisasi petani di lapangan dan menuntu dijalankannya agenda reforma agraria sejati
Aliansi Gerakan Kaum Tani untuk Reforma Agraria:
Serikat Petani Pasundan (SPP) - Serikat Tani Nasional (STN) - Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) - Serikat Petani Indonesia (SPI) - Aliansi Petani Indonesia (API)- Solidaritas Perempuan (SP) - Sawit Watch (SW) - Indonesia Human Rights Committee for Social Justice (IHCS) - Institute for Global Justice (IGJ) - Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP) - Serikat Petani Karawang (Sepetak) - Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) - Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) - Koalisi Anti Utang (KAU) - KPRI - P3I - P3S KEPRI - Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) - Petani Mesuji, Lampung - Petani Tanjung Pinang, Kepulauan Riau - Serikat Tani Merdeka (SeTam) Cilacap - PMK HKBP Jakarta - PRD - PRP - RACA - Repdem - Serikat Hijau Indonesia (SHI) - Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) - SRMI - STI - SBTPI - TPRM Jember - FrontJak.
Eksekusi Lahan Ricuh, Jokowi: Penggusuran Pulogadung Bukan Perintahnya
SUARAAGRARIA.com, Jakarta:Pagi tadi (22/5), eksekusi lahan terjadi juga di Kampung Srikandi RT 07 RW 03, Jatinegara Kaum, Pulogadung, Jakarta Timur. Bentrokan sempat berlangsung, warga yang menolak penggusuran melakukan aksi rotes dengan menaiki alat berat yang hendak dipakai untuk mem"beko" pemukiman warga.
Bentrokan terjadi saat petugas gabungan satpol PP dan polisi hendak mencegah aksi warga itu. Walhasil kedua pihak Keduanya saling serang dan baku pukul. Petugas terpaksa menembakan gas air mata, untuk membubarkan warga yang beringas.
Sementara itu, Joko Widodo (Jokowi) mengaku tidak tahu menahu masalah eksekusi tersebut. "Enggak tahu, itu bukan wilayah kita," tutur Gubernur di Balaikota Jakarta (22/5).
Menurut Jokowi, eksekusi penggusuran itu merupakan putusan PN Jakarta Timur, bukan keputusan Pemprov DKI.
Mengenai keterlibatan Satpol PP dalam penggusuran yang bukan ranah Pemprov DKI, Jokowi mengatakan, seharusnya tidak ada Satpol PP yang menindak.
Namun, mantan Wali Kota Surakarta itu mengungkapkan, bukan tidak mungkin keterlibatan Satpol PP untuk membantu pihak kepolisian yang berjaga di sana.
"Saya selalu sampaikan kalau bukan wilayah kita, ya mestinya enggak ada personel Satpol PP," kata Jokowi.
Seperti diketahui, eksekusi tersebut merupakan buntut dari sengketa lahan antara PT. Buana Estate milik pengusaha Probosutejo warga Kampung Srikandi.
Tanah seluas 7 hektar yang diduduki warga selama puluhan tahun, diklaim milik PT. Buana Estate.
Tidak hanya Satpol PP saja yang ada disana, TNI dan Polisi juga ikut mengawal jalannya eksekusi.
Jadi kalau bukan Jokowi, lalu atas perintah siapa Satpol PP berada di sana?
Sengketa Lahan: Alam Sutera Klaim Miliki Kelengkapan Sertipikat Tanah
SUARAAGRARIA.com, Jakarta:Pihak perumahan Alam Sutera tegas-tegas membantah bahwa lahan seluas 2,3 Hektar di Kelurahan Pakualam, Kecamatan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan adalah milik keluarga Ronah. Alam Sutera mengklaim dilengkapi dengan bukti-bukti yang sah secara hukum.
Seperti dipaparkan Kuasa hukum perumahan Alam Sutera, Kamaruddin, kliennya membeli lahan yang disengketakan itu dari Djain Logo dan sudah disertipikatkan pada tahun 1984 silam.
"Sudah 30 tahun dikuasai, kenapa protes baru muncul sekarang?" ujarnya dengan nada heran (10/6).
Lanjutnya, kliennya mempersilahkan saja masalah ini dibawa ke meja pengadilan agar ke depan tidak terjadi lagi bentrokan antara keamanan Alam Sutera degan massa FPI (Front Pembela Islam).
Seperti diketahui masalah sengketa lahan ini melibatkan FPI. Bahkan pada hari Kamis lalu (6/6) terjadi bentrokan antara pihak keamanan pengembang dengan massa FPI yang membela Keluarga Ronah yang mengklaim memiliki lahan tersebut (Baca: Sengketa Lahan Alam Sutera: FPI Demo Polda Metro Jaya).
Berdasarkan informasi, Lahan Djain Lago memang bersebelahan dengan lahan keluarga Ronah. Pihak Alam Sutera mengatakan sertifikat tersebut tidak ada kaitan sama sekali dengan lahan keluarga Ronah.
Warga Sumberklampok Buleleng Sambangi BPN RI Terkait Penetapan Tanah Terlantar
SUARAAGRARIA.com, Jakarta: Warga Desa Sumberkelampok, Kabupaten Buleleng Bali, mendatangi Badan Pertanahan RI (BPN RI) untuk memastikan proses penetapan tanah terlantar di desa itu yang terkatung-katung selama lebih dari 20 tahun, Rabu (4/7).
Warga hendak memastikan laporan Kanwil Badan Pertanahan Nasional Provinsi Bali 2 (dua) tahun lalu, Tanah Negara di Desa Sumberklampok yang terindikasi sebagai Tanah Terlantar, sesuai pelaksanaan PP Tanah Terlantar No 11 Tahun 2010. BACA INI: 51.976 Hektar Lahan di Indonesia Dinyatakan Terlantar
Kedatangan warga didampingi oleh Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) dan anggota DPRD Kabupaten Buleleng H. Muliyadi Putra.
Dalam pertemuan itu warga diterima oleh Direktur Pengendalian tanah terlantar dan pemberdayaan masyarakat, kasubdit pengendalian kebijakan dan Staf khusus Kepala Badan Pertanahan Nasional dan staf yang lainnya.
Namun menurut KPA, hasil pertemuan audiensi belum menunjukan jalan keluar.
Pihak BPN RI menyampaikan bahwa permasalahan Tanah Negara di Desa Sumberklampok masih dalam proses kajian.
BPN RI sedang melakukan validasi data untuk mempercepat penerbitan surat keputusan penetapan tanah terlantar.
Pihak BPN RI berjanji akan menyampaikan hasil pertemuan ini kepada Hendarman Supandji Selaku Kepala BPN RI.
BACA TERKAIT TANAH TERLANTAR:
KPA: Tentang PP No.11/2010, BPN RI Belum Maksimal Laksanakan Redistribusi Tanah
Petani Nanggung Bogor Tolak Perpanjangan HGU PT Hevea Indonesia
UUPA dan Akselerasi Reforma Agraria
Profil Jokowi: "Si Bodoh" Itu Ternyata Berkualitas dan Pilihan Warga Jakarta
SUARAAGRARIAcom: Fenomenal adalah kata yang tepat untuk menggambarkan pria kurus namun berkepribadian rendah hati ini. Selama menjadi Walikota Solo , banyak keputusan-keputusannya yang dinilai kontroversial oleh segelintir pihak. Masih ingat kasus Pabrik Es Saripetojo Purwosari ? Secara blak-blakan Gubernur Jawa Tengah menilai Walikota Solo "bodoh", karena menentang kebijakannya mendirikan mall di atas lahan pabrik kuno tersebut.
Alasan sang Gubernur yang mantan Jenderal Angkatan Darat ini, lahan Pabrik Es Saripetojo Purwosari adalah milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, sebaliknya Pemerintah Kota Solo dan warganya menilai bangunan tersebut masuk Benda Cagar Budaya sehingga tidak bisa dibongkar seenaknya. Belum lagi pembangunan mall di lokasi itu dinilai akan mematikan pasar tradisional di sekitarnya.
Walhasil polemik tersebut menghiasi media-media berita nasional, baik online, elektronik maupun cetak, dan nama Jokowi kemudian menjadi dikenal oleh masyarakat Indonesia. Sampai saat ini hasrat membangun mall di daerah itu toh tetap tak terealisasi juga, mengingat keputusan hanya bisa dikeluarkan lewat wewenang Jokowi sebagai Walikota Solo.
Sikap tegas, selain low profile, pro rakyat kecil dan kualitas kinerjanya yang mumpuni, dianggap para pengamat politik sebagai faktor penentu Jokowi dalam memenangkan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta, setidaknya dalam versi hitung cepat. Sosok seperti inilah yang sebenarnya diinginkan warga Jakarta sebagai pemimpin mereka, hal yang mungkin kurang ditemukan dalam profile incumbent Bang Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo.
Soal kualitas kinerja, jangan ditanya. Seabrek penghargaan telah diberikan kepadanya (lihat profil), baik sebagai pribadi maupun sebagai tim (sebagai Walikota berikut seluruh jajaran Pemkot Solo). Kalau masih ada yang meragukannya, paling-paling hanya sebatas "Itu kan waktu di Solo, beda dong dengan di Jakarta". Keraguan tadi sesungguhnya terpatahkan dengan pertanyaan "Apakah Jenderal Ali Sadikin pernah berdinas di Pemda DKI Jakarta sebelum menjadi Gubernur DKI?" Faktanya, Ali Sadikin diakui sebagai Gubernur DKI Jakarta yang kinerjanya mumpuni dan menjadi idola.
Pro rakyat kecil? Bisa dibilang begitu. Salah satu ukurannya adalah relokasi damai pedagang barang bekas di Taman Banjarsari. Caranya sederhana sekali, yakni tanpa bosan berdialog berulang-ulang dengan para pedagang, meski harus sampai 54 kali dalam tempo 7 bulan! Konsep dialog dalam penyelesaian masalah seperti ini jarang atau boleh dibilang diabaikan petinggi-petinggi Pemda DKI Jakarta saat ini. Berita yang sering menghiasi media massa banyak sekali berakhir dengan korban jiwa serta tangis karena berujung pada kekerasan.
Nah, pertanyaannya apakah Jokowi tetap menerapkan model komunikasi dialog dalam menyelesaikan permasalahan agraria di Ibu kota yang carut marut ? Dalam suatu kesempatan ketika halal bihalal di kantor Sekretariat Tim Kampanye Jokowi - Ahok, Menteng, Jakarta Pusat, (25/8), Jokowi menjanjikan tetap menggunakan pola dialog dalam menyelesaikan sengketa pertanahan di Jakarta.
Menurut Insinyur lulusan Fakultas Kehutanan UGM itu, proses dialog penting dilakukan agar aspirasi masyarakat bisa ditampung. Juga sekaligus menjadi win win solution di antara kedua belah pihak. Ia berjanji jika lahan yang diributkan adalah milik negara, maka lahan itu akan diberikan kepada warga dengan syarat mereka mau diatur dan ditertibkan.
Hanya dengan cara itu menurut pria yang lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961 ini, akan terhindar bentrok antara warga dengan pemerintah. "Saya tidak hanya sekali dua kali menyelesaikan yang seperti itu," tegasnya. Berdasarkan pengalaman yang ada dirinya yakin mampu menyelesaikan masalah seperti itu.
Setelah dipastikan mengalahkan Foke-Nara, dengan perolehan 53,81% vs 46,19% versi hitung cepat Lembaga Survey Indonesia pada 11 Juli 2012, kini warga Jakarta, khususnya kalangan menengah ke bawah, berharap banyak dengan janji-janji kader PDI Perjuangan itu saat kampanye . Warga menunggu gebrakan-gebrakan progresifnya seperti saat memimpin Kota Solo demi kemajuan Kota Jakarta tercinta.
Yang jelas jika dilihat dari track record, Jokowi dan Wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama atau dikenal dengan Ahok, tidak salah jika warga Jakarta kemudian menjatuhkan pilihan kepada Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta yang ke-17. Semoga Ibu kota Jakarta menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Profil
Nama: Ir. Joko Widodo
Panggilan Akrab: Jokowi
Tempat Tanggal Lahir: Surakarta, 21 Juni 1961
Agama: Islam
Pendidikan: SDN 111 Tirtoyoso Solo, SMPN 1 Solo , MAN 6 Solo, Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta lulusan 1985
Hobi: Penikmat musik rock, belakangan juga ternyata menggemari musik dangdut, khususnya karya-karya H. Rhoma Irama
Pekerjaan: Pengusaha meubel, Walikota Solo (Periode 2005-2010 & 2010-2015), Gubernur DKI Jakarta (Periode 2010-2015) Versi Quick Count LSI
Karir: Pendiri Koperasi Pengembangan Industri Kecil Solo (1990), Ketua Bidang Pertambangan & Energi Kamar Dagang dan Industri Surakarta (1992-1996), Ketua Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia Surakarta (2002-2007)
Status: Menikah dikaruniai 3 orang anak. Isteri bernama Iriana, Anak :
1.Gibran Rakabuming (25), lulusan Universitas di Australia dan Singapura
2.Kahiyang Ayu (21), mahasiswi Universitas Negeri Sebelas Maret
3.Kaesang Pangarep (17), pelajar di Singapura
Profil Social Media: Facebook : jokowi, Akun twitter : jokowi_do2
Email: jokowi@indo.net.id
Alamat Kantor: Jl. Jend. Sudirman No. 2 Telp. 644644, 642020, Psw 400, Fax. 646303
Alamat Rumah Dinas: Rumah Dinas Loji Gandrung Jl. Slamet Riyadi No. 261 Telp. 712004
HP. 0817441111
Penghargaan dan Prestasi:
2006:
- Penghargaan dari UNICEF untuk Program Perlindungan Anak
- Anugerah Wahana Tata Nugraha kepada Kota Solo dari Kementerian Perhubungan di bidang tata tertib lalu lintas dan angkutan umum
2007:
- Anugerah Wahana Tata Nugraha kepada Kota Solo dari Kementerian Perhubungan di bidang tata tertib lalu lintas dan angkutan umum
2008:
- Terpilih menjadi salah satu dari "10 Tokoh 2008″ Versi Majalah Tempo karena prestasi-prestasinya yang fenomenal
- Anugerah Wahana Tata Nugraha kepada Kota Solo dari Kementerian Perhubungan di bidang tata tertib lalu lintas dan angkutan umum
2009:
- Piala dan Piagam Citra Bhakti Abdi Negara dari Presiden Republik Indonesia, untuk kinerja kota dalam penyediaan sarana Pelayanan Publik, Kebijakan Deregulasi, Penegakan Disiplin dan Pengembangan Manajemen Pelayanan
- Piala Citra Bidang Pelayanan Prima Tingkat Nasional dari Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara RI.
- Penghargaan dari Departemen Keuangan berupa dana hibah sebesar 19,2 miliar untuk pelaksanaan pengelolaan keuangan yang baik.
- Indonesia Tourism Award Kategori Indonesia Best Destination dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI bekerjasama dengan majalah SWA.
- Grand Award Layanan Publik Bidang Pendidikan
- Penghargaan Manggala Karya Bhakti Husada Arutala dari Departemen Kesehatan
- Anugerah Wahana Tata Nugraha kepada Kota Solo dari Kementerian Perhubungan di bidang tata tertib lalu lintas dan angkutan umum
2010:
- Bung Hatta Anticorruption Award 2010
- Penghargaan Kota Solo sebagai inkubator bisnis dan teknologi dari Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia.
- Kota Terfavorit Wisatawan 2010 dalam Indonesia Tourism Award 2010 dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
- Penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam bidang Pelopor Inovasi Pelayanan Prima
- Anugerah Wahana Tata Nugraha kepada Kota Solo dari Kementerian Perhubungan di bidang tata tertib lalu lintas dan angkutan umum
2011:
- Wali Kota teladan dari Kementerian Dalam Negeri RI
- Menerima Charta Politica Award III dari lembaga riset politik Charta Politika Indonesia. Dia mendapatkan penghargaan dalam Kategori Politisi dari Kepala Daerah. Jokowi dianggap memiliki pengaruh yang baik kepada publik
- Penghargaan Langit Biru dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk kategori Kota dengan kualitas udara terbersih
- Penghargaan dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai salah satu kota terbaik penyelenggara program pengembangan mewujudkan Kota Layak Anak
- Anugerah Wahana Tata Nugraha kepada Kota Solo dari Kementerian Perhubungan di bidang tata tertib lalu lintas dan angkutan umum
- Memperoleh Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama. Bintang ini diberikan untuk sosok yang dianggap memiliki jasa-jasa luar biasa dalam suatu bidang tertentu di luar bidang militer
2012:
- UNS SME's Awards untuk Pemerintah Kota Solo dari Universitas Negeri Sebelas Maret, karena menjadi kota/kabupaten pengembang UMKM terbaik
- Best City Award dalam Delgosea Conference di Bangkok, karena Jokowi dianggap sukses menerapkan kebijakan yang membuat masyarakat mau mendukung dan melaksanakannya.
- Soegeng Sarjadi Award on Good Governance kategori 'Inspirasi Pemberdayaan Masyarakat'
- Masuk dalam 25 kandidat Wali Kota Terbaik di Dunia versi The City Mayors Foundation, (Inggris) atas prestasi-prestasinya selama menjabat sebagai Walikota Solo
- Penghargaan sebagai Kepala Daerah Tingkat Kabupaten/Kota di Jawa yang dinilai berhasil dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID)
Lainnya:
- Kota Layak Anak dari Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan
- Sanitasi dan Penataan Permukiman Kumuh dari Departemen Pekerjaan Umum
(redaksi)
Baca Berita Terkait:
Jokowi: Sengketa Tanah Harus Diselesaikan Dengan Win-win Solution
5 Hal Kocak yang Pernah Dilakukan Jokowi
Jokowi-Ahok Resmi Jadi Gubernur DKI Jakarta
Sengketa Lahan Dengan Podomoro, Warga Karawang Tutup Tol Jakarta-Cikampek
SUARAAGRARIA.com, Jakarta:Warga Karawang akhirnya hengkang juga dari jalan Tol Jakarta-Cikampek, setelah sebelumnya memblokade tol tersebut. Permasalahannya, warga protes soal sengketa lahan dengan PT Agung Podomoro Land (APL) yang sudah berlangsung 20 tahun lamanya.
"Kami minta maaf, karena kami memperjuangkan hak lahan kami yang 20 tahun silam dikuasai APL," teriak pengunjuk rasa.
BACA JUGA: Eva Sundari Minta Eksekusi Lahan Sengketa di Karawang Ditunda
Ratuan warga yang melakukan blokade berasal dari tiga desa di Kecamatan Teluk Jambe Barat, Karawang, tepatnya di KM 44, Kamis (11/7) siang dari pukul 09.10 WIB hingga 11.30 WIB.
Warga mengklaim tanah yang disengketakan di Teluk Jambe, Kerawang, Jawa Barat itu adalah milik mereka yang dikuasai APL. Warga tidak pernah menjual tanah tersebut kepada APL.
Jika APL merasa telah membeli dan memiliki surat tanah yang bersengketa itu, berarti surat itu palsu.
"Surat tersebut pernah dilaporkan ke Polda Jabar. Dirut perusahaan yang jual juga sudah jadi tersangka, tapi kasus ini tidak ada kejelasannya," ungkap Yono.
Selain sengketa lahan, warga juga menuntut sertifikasi tanah yang tak kunjung diselesaikan pihak BPN RI.
"Sudah puluhan tahun masyarakat tinggal di sana, namun urusan sertifikasi tanah belum diselesaikan oleh BPN RI," tutur koordinator lapangan demonstrasi, Yono Kamis (11/7).
Padahal lahan sudah puluhan tahun ditinggali warga, bahkan milik turun temurun dan terdaftar di buku C.
"Warga sudah bayar pajak tiap tahun, " terangnya. Untuk itu warga meminta permasalahan sengketa lahan dan sertifikat tanah diselesaikan dengan tuntas.
BACA BERITA SENGKETA LAHAN:
SPKA: Putusan MA Soal Sengketa Lahan KAI Menangkan PT. ACK Cacat Hukum
Sengketa Lahan: Alam Sutera Klaim Miliki Kelengkapan Sertipikat Tanah
Bulan Ramadhan Bawa Berkah, Sengketa Lahan Makam Mbah Priok Capai Kesepakatan
Warga Sumberklampok Buleleng Sambangi BPN RI Terkait Penetapan Tanah Terlantar
Eva Sundari Minta Eksekusi Lahan Sengketa di Karawang Ditunda
SUARAAGRARIAcom, Jakarta: Eva Kusuma Sundari meminta meminta aparat penegak hukum menunda eksekusi lahan sengketadi Desa Sirnabaya, Kecamatan Telukjambe, Kabupaten Karawang, sampai ada keputusan hukum dari Kejaksaan Tinggi Karawang.
BACA JUGA SOAL SENGKETA LAHAN di KARAWANG TERKINI: Sengketa Lahan Dengan Podomoro, Warga Karawang Tutup Tol Jakarta-Cikampek
Menurut anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDI Perjuangan itu, kasus sengketa lahantersebut terlihat janggal. "Banyak sekali kejanggalan-kejanggalannya," tegas Eva usai menerima pengaduan warga di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu 19/12. Salah satu kejanggalan dimaksud adalah putusan Mahkamah Agung MA dibatalkan oleh keputusan MA juga.